Berbagai Definisi tentang Psikolinguistik
Uraian ini akan diawali dengan memaparkan sejumlah pengertian psikolinguistik dari para ahli kemudian disertai komentar dan pandangan penulis terhadap pengertian psikolinguistik itu. Pemaparan batasan psikolinguistik ini dilakukan secara kronologis. Pemaparan demikian, selain pertimbangan praktis, juga dimaksudkan agar pembaca memperoleh gambaran secara umum mengenai perkembangan pengertian psikolinguistik.
Sampai saat ini definisi psikolinguistik yang dikemukakan para ahli bahasa masih beragam. Antara definisi yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan-perbedaan karena sudut pandang yang digunakan pun berbeda. Namun, harus diakui pula bahwa di samping terdapat perbedaan terdapat juga teras-inti bersama atau persamaan-persamaan di antara definisi-definisi itu.
Berikut ini beberapa definisi psikolinguistik menurut para ahli:
(1) Jean Aitchison (1998)
Jean Aitchison dalam karyanya The Articulate Mammal: An Introduction to Psycholinguistics (1998:1, seperti dikutip oleh Soenjono Dardjowidjojo, 2003 : 7) mendefinisikan psikolinguistik sebagai suatu “studi tentang bahasa dan minda”.
Tampak pada pernyataan di atas, di dalam analisisnya tersebut, psikolinguistik adalah suatu ilmu yang memfokuskan dua aspek yaitu bahasa dan minda. Bahasa adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk dipergunakan bertutur dengan manusia lainnya dengan tanda, misalnya kata dan gerakan sedangkan minda adalah makna. Jadi, dapat disimpulkan bahwa antara bahasa dan minda tidak dapat saling dipisahkan melainkan saling melengkapi.
(2) Trevor A Harley (1995 / 2001)
Trevor A Harley (1995 / 2001) sebagaimana dikutip oleh Soenjono Dardjowidjojo (2003 : 7) menyatakan psikolinguistik sebagai suatu “studi tentang proses-proses mental dalam pemakaian bahasa”.
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa psikolinguistik merupakan pembelajaran tentang bagaimana pemakaian bahasa pada setiap individu mempunyai proses-proses mental yang beragam yang terjadi pada saat pemerolehan bahasa. Proses mental yang beragam pada setiap individu ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana keadaan atau kondisi kejiwaan si pemakai bahasa dalam pemakaian bahasa dalam jangka waktu tertentu.
(3) Herbert H Clark dan Eve V.Clark (1977)
Dalam karyanya Psychology and Language: An Introduction to Psycholinguistics (1977 : 4, seperti dikutip oleh Soenjono Dardjowidjojo, 2003 : 7) menjelaskan bahwa psikologi bahasa berkaitan dengan tiga hal utama: komprehensi, produksi, dan pemerolehan bahasa.
Definisi yang dijelaskan oleh Herbert H Clark dan Eve V.Clark berkaitan dengan bagaimana bahasa yang digunakan telah melewati sebuah proses yang berkaitan dengan kejiwaan manusia. Adapun hal-hal yang dipentingkan di dalam psikologi bahasa menurut Herbert H Clark dan Eve V.Clark adalah (1) Komprehensi, yaitu memiliki arti kemampuan untuk menangkap dengan baik sistem atau lambang bunyi yang arbiter, (2) Produksi, yaitu proses memproduksi ujaran berdasarkan si penutur, di mana dalam berkomunikasi memerlukan perencanaan mental, (3) Pemerolehan bahasa, yaitu proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Menurut penulis, definisi yang disampaikan oleh Herbert H Clark dan Eve V.Clark belum dapat mewakili definisi psikolinguistik yang sebenarnya melainkan hanya membicarakan tiga hal utama dalam psikologi bahasa saja.
(4) Soenjono Dardjowidjojo (2003)
Di dalam buku Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia (2003:7), Soenjono Dardjowidjojo memberikan definisi sebagai berikut. “Psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam mereka berbahasa”.
Menurut Soenjono Dardjowidjojo, psikolinguistik adalah pembelajaran yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam mereka berbahasa. Proses-proses mental yang dimiliki setiap individu sangat beragam. Secara rinci psikolinguistik mempelajari empat aspek topik utama: (a) komprehensi, yakni, proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehingga mereka dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud, (b) produksi, yakni, proses-proses mental pada diri kita yang membuat kita dapat berujar seperti yang kita ujarkan, (c), landasan biologis serta neurologis yang membuat manusia bisa berbahasa, dan (d) pemerolehan bahasa, yakni, bagaimana anak memperoleh bahasa mereka.
(5) Abdul Chaer (2003)
Secara etimologi kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materianya yang berbeda, linguistik mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan demikian cara dan tujuannya berbeda. (Abdul Chaer, 2003 : 5).
Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa psikolinguistik adalah suatu bidang ilmu interdipliner antara bidang ilmu psikologi mempelajari ilmu tentang kejiwaan, proses mental baik normal maupun abnormal yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan bidang ilmu linguistik mempelajari ilmu tentang bahasa. Jika disimpulkan bahwa psikolinguistik merupakan ilmu bahasa yang berkaitan dengan kejiwaan seseorang yang berupa penggunaan bahasa atau pengungkapan sesuatu melalui bahasa yang sesuai dengan perasaan seseorang. Meskipun kedua ilmu antara psikologi dan linguistik ini cara dan tujuannya berbeda, tetapi banyak juga bagian-bagian objeknya yang dikaji dengan cara yang sama dan dengan tujuan yang sama, tetapi dengan teori yang berlainan. Hasil kajian kedua disiplin ini pun banyak yang sama, meskipun tidak sedikit yang berlainan. Oleh karena itu, telah lama dirasakan perlu adanya kerjasama diantara kedua disiplin ini untuk mengkaji bahasa dan hakikat bahasa. Dengan kerjasama kedua disiplin itu diharapkan akan diperoleh hasil kajian yang lebih baik dan lebih bermanfaat.
(6) Lavelt
Lavelt dalam Listianingrum (2013) “Psycholinguistics is the study of the use and of acquisition of human language and also it consists of different aspects. The first is acquisition. It relates to how the human (especially children) learn the language. The second is the use of language by normal adults”. ‘Psikolinguistik adalah studi tentang penggunaan akuisisi bahasa manusia dan juga terdiri dari berbagai aspek. Yang pertama adalah akuisisi. Berkaitan dengan bagaimana manusia (terutama anak-anak) belajar bahasa. Yang kedua adalah penggunaaan bahasa oleh orang dewasa yang normal’.
Pengertian psikolinguistik menurut Lavelt tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa psikolinguistik merupakan suatu pembelajaran yang menekankan penggunaan akuisisi bahasa manusia beserta aspek-aspeknya. Akuisisi yang pertama berkaitan dengan bagaimana manusia (terutama anak-anak) belajar bahasa. Yang kedua adalah penggunaan bahasa oleh orang dewasa yang normal. Pastilah antara kedua akuisisi tersebut mempunyai perbedaan antara anak-anak dan orang dewasa normal.
Uraian ini akan diawali dengan memaparkan sejumlah pengertian psikolinguistik dari para ahli kemudian disertai komentar dan pandangan penulis terhadap pengertian psikolinguistik itu. Pemaparan batasan psikolinguistik ini dilakukan secara kronologis. Pemaparan demikian, selain pertimbangan praktis, juga dimaksudkan agar pembaca memperoleh gambaran secara umum mengenai perkembangan pengertian psikolinguistik.
Sampai saat ini definisi psikolinguistik yang dikemukakan para ahli bahasa masih beragam. Antara definisi yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan-perbedaan karena sudut pandang yang digunakan pun berbeda. Namun, harus diakui pula bahwa di samping terdapat perbedaan terdapat juga teras-inti bersama atau persamaan-persamaan di antara definisi-definisi itu.
Berikut ini beberapa definisi psikolinguistik menurut para ahli:
(1) Jean Aitchison (1998)
Jean Aitchison dalam karyanya The Articulate Mammal: An Introduction to Psycholinguistics (1998:1, seperti dikutip oleh Soenjono Dardjowidjojo, 2003 : 7) mendefinisikan psikolinguistik sebagai suatu “studi tentang bahasa dan minda”.
Tampak pada pernyataan di atas, di dalam analisisnya tersebut, psikolinguistik adalah suatu ilmu yang memfokuskan dua aspek yaitu bahasa dan minda. Bahasa adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk dipergunakan bertutur dengan manusia lainnya dengan tanda, misalnya kata dan gerakan sedangkan minda adalah makna. Jadi, dapat disimpulkan bahwa antara bahasa dan minda tidak dapat saling dipisahkan melainkan saling melengkapi.
(2) Trevor A Harley (1995 / 2001)
Trevor A Harley (1995 / 2001) sebagaimana dikutip oleh Soenjono Dardjowidjojo (2003 : 7) menyatakan psikolinguistik sebagai suatu “studi tentang proses-proses mental dalam pemakaian bahasa”.
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa psikolinguistik merupakan pembelajaran tentang bagaimana pemakaian bahasa pada setiap individu mempunyai proses-proses mental yang beragam yang terjadi pada saat pemerolehan bahasa. Proses mental yang beragam pada setiap individu ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana keadaan atau kondisi kejiwaan si pemakai bahasa dalam pemakaian bahasa dalam jangka waktu tertentu.
(3) Herbert H Clark dan Eve V.Clark (1977)
Dalam karyanya Psychology and Language: An Introduction to Psycholinguistics (1977 : 4, seperti dikutip oleh Soenjono Dardjowidjojo, 2003 : 7) menjelaskan bahwa psikologi bahasa berkaitan dengan tiga hal utama: komprehensi, produksi, dan pemerolehan bahasa.
Definisi yang dijelaskan oleh Herbert H Clark dan Eve V.Clark berkaitan dengan bagaimana bahasa yang digunakan telah melewati sebuah proses yang berkaitan dengan kejiwaan manusia. Adapun hal-hal yang dipentingkan di dalam psikologi bahasa menurut Herbert H Clark dan Eve V.Clark adalah (1) Komprehensi, yaitu memiliki arti kemampuan untuk menangkap dengan baik sistem atau lambang bunyi yang arbiter, (2) Produksi, yaitu proses memproduksi ujaran berdasarkan si penutur, di mana dalam berkomunikasi memerlukan perencanaan mental, (3) Pemerolehan bahasa, yaitu proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Menurut penulis, definisi yang disampaikan oleh Herbert H Clark dan Eve V.Clark belum dapat mewakili definisi psikolinguistik yang sebenarnya melainkan hanya membicarakan tiga hal utama dalam psikologi bahasa saja.
(4) Soenjono Dardjowidjojo (2003)
Di dalam buku Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia (2003:7), Soenjono Dardjowidjojo memberikan definisi sebagai berikut. “Psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam mereka berbahasa”.
Menurut Soenjono Dardjowidjojo, psikolinguistik adalah pembelajaran yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam mereka berbahasa. Proses-proses mental yang dimiliki setiap individu sangat beragam. Secara rinci psikolinguistik mempelajari empat aspek topik utama: (a) komprehensi, yakni, proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehingga mereka dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud, (b) produksi, yakni, proses-proses mental pada diri kita yang membuat kita dapat berujar seperti yang kita ujarkan, (c), landasan biologis serta neurologis yang membuat manusia bisa berbahasa, dan (d) pemerolehan bahasa, yakni, bagaimana anak memperoleh bahasa mereka.
(5) Abdul Chaer (2003)
Secara etimologi kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materianya yang berbeda, linguistik mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan demikian cara dan tujuannya berbeda. (Abdul Chaer, 2003 : 5).
Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa psikolinguistik adalah suatu bidang ilmu interdipliner antara bidang ilmu psikologi mempelajari ilmu tentang kejiwaan, proses mental baik normal maupun abnormal yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan bidang ilmu linguistik mempelajari ilmu tentang bahasa. Jika disimpulkan bahwa psikolinguistik merupakan ilmu bahasa yang berkaitan dengan kejiwaan seseorang yang berupa penggunaan bahasa atau pengungkapan sesuatu melalui bahasa yang sesuai dengan perasaan seseorang. Meskipun kedua ilmu antara psikologi dan linguistik ini cara dan tujuannya berbeda, tetapi banyak juga bagian-bagian objeknya yang dikaji dengan cara yang sama dan dengan tujuan yang sama, tetapi dengan teori yang berlainan. Hasil kajian kedua disiplin ini pun banyak yang sama, meskipun tidak sedikit yang berlainan. Oleh karena itu, telah lama dirasakan perlu adanya kerjasama diantara kedua disiplin ini untuk mengkaji bahasa dan hakikat bahasa. Dengan kerjasama kedua disiplin itu diharapkan akan diperoleh hasil kajian yang lebih baik dan lebih bermanfaat.
(6) Lavelt
Lavelt dalam Listianingrum (2013) “Psycholinguistics is the study of the use and of acquisition of human language and also it consists of different aspects. The first is acquisition. It relates to how the human (especially children) learn the language. The second is the use of language by normal adults”. ‘Psikolinguistik adalah studi tentang penggunaan akuisisi bahasa manusia dan juga terdiri dari berbagai aspek. Yang pertama adalah akuisisi. Berkaitan dengan bagaimana manusia (terutama anak-anak) belajar bahasa. Yang kedua adalah penggunaaan bahasa oleh orang dewasa yang normal’.
Pengertian psikolinguistik menurut Lavelt tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa psikolinguistik merupakan suatu pembelajaran yang menekankan penggunaan akuisisi bahasa manusia beserta aspek-aspeknya. Akuisisi yang pertama berkaitan dengan bagaimana manusia (terutama anak-anak) belajar bahasa. Yang kedua adalah penggunaan bahasa oleh orang dewasa yang normal. Pastilah antara kedua akuisisi tersebut mempunyai perbedaan antara anak-anak dan orang dewasa normal.
(7) Slobin (1974)
(Slobin dalam Dian Karina, 2013, from http://diankarina900.blogspot.co.id/2013/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html) “Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan bahasa diperoleh manusia”.
Dilihat dari apa yang dikatakan oleh Slobin, ia mengemukakan inti dari pengertian diatas bahwa psikolinguistik memang lebih condong kepada proses-proses psikologi seseorang yang sedang berkomunikasi. Atau dengan kata lain, proses-proses berkomunikasi dilihat dari sisi psikologis orang tersebut. Sisi psikologis yang dimaksud oleh Slobin juga telah mencakup waktu dan bagaimana suatu bahasa itu diucapkan. Ini menjelaskan bahwasannya waktu juga memengaruhi cara berkomunikasi seseorang. Tentang bagaimana, ini menjelaskan bahwa proses-proses yang dilakukan dalam berkomunikasi adalah dari anak kecil menuju dewasa. Lalu bagaimana kemampuan berbahasa seseorang bisa mengingat untuk satu jenis bahasa dan/atau bisa bertambah lebih dari satu bahasa secara umum. Selain itu psikolinguistik mencoba untuk menjelaskan sifat dari struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada saat mengingat, dan pada waktu memahami kalimat dalam substitusi. Pada intinya, proses kegiatan komunikasi untuk memproduksi dan memahami ungkapan. Slobin telah berhasil membuat definisi yang lumayan bisa diterima untuk istilah psikolinguistik karena telah menjelaskan dengan jelas tujuan dari gabungan dua macam ilmu yang berbeda tersebut.
Kesimpulan Akhir (Definisi Psikolinguistik Menurut Penulis)
Psikolinguistik yaitu suatu bidang ilmu interdipliner antara bidang ilmu psikologi mempelajari ilmu tentang kejiwaan, proses mental baik normal maupun abnormal yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan bidang ilmu linguistik mempelajari ilmu tentang bahasa. Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa dan bagaimana struktur ini diperoleh, digunakan pada waktu bertutur dan memeahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu sesuai proses mental baik normal maupun abnormal yang dimiliki setiap individu. Dalam prakteknya psikolinguistik mencoba menerapkan pengetahuan linguistik dan psikologi pada masalah-masalah seperti pengajaran dan pembelajaran bahasa, pengajaran membaca permulaan dan membaca lanjut, kedwibahasaan dan kemultibahasaan, penyakit bertutur seperti afasia, gagap, dan sebagainya; serta masalah-masalah sosial lain yang menyangkut bahasa, seperti bahasa dan pendidikan bahasa dan pembangunan nusa dan bangsa.
Ranah Cakupan Psikolinguistik
Disiplin psikolinguistik telah berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa subdisiplin psikolinguistik. Di antara subdisiplin psikolinguistik itu adalah sebagai berikut:
a. Psikolinguistik Teoretis
Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana, dan rancangan intonasi.
b. Psikolinguistik Perkembangan
Subdisiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2). Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu.
c. Psikolinguistik Sosial
Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa, bahasa itu bukan hanya merupakan satu gejala dan identitas sosial saja, tetapi juga merupakan suatu ikatan batin dan murni yang sukar ditinggalkan.
d. Psikolinguistik Pendidikan
Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umumnya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran kemahiran berbahasa, dan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan.
e. Psikolinguistik-Neurologi (Neuropsikolinguistik)
Subdisiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak, serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu. Namun, ada pertanyaan yang belum dijawab secara lengkap, yaitu apa yang terjadi dengan masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa diprogramkan dan dibentuk dalam otak itu.
f. Psikolinguistik Eksperimen
Subdisiplin ini meliput dan melakukan eksperimen dalam kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain.
g. Psikolinguistik Terapan
Subdisiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam subdisiplin psikolinguistik di atas ke dalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termasuk subdisiplin ini ialah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi, dan susastra.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.
Karina, Dian. 2013. Artikel Psikolinguistik. http://diankarina900.blogspot.co.id/2013/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html; diakses tanggal 28 Februari 2016.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Listianingrum, Via. 2013. An Error Analysis on Simple Past Tense Made by Second Grade Students in their Stories (A Psycholinguistics Approach) Submitted as a Partial Fulfillment of Requirement for the Sarjana Degree in English Department Faculty of Letters and Fine Arts Sebelas Ma. Surakarta: tidak diterbitkan.
(Slobin dalam Dian Karina, 2013, from http://diankarina900.blogspot.co.id/2013/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html) “Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan bahasa diperoleh manusia”.
Dilihat dari apa yang dikatakan oleh Slobin, ia mengemukakan inti dari pengertian diatas bahwa psikolinguistik memang lebih condong kepada proses-proses psikologi seseorang yang sedang berkomunikasi. Atau dengan kata lain, proses-proses berkomunikasi dilihat dari sisi psikologis orang tersebut. Sisi psikologis yang dimaksud oleh Slobin juga telah mencakup waktu dan bagaimana suatu bahasa itu diucapkan. Ini menjelaskan bahwasannya waktu juga memengaruhi cara berkomunikasi seseorang. Tentang bagaimana, ini menjelaskan bahwa proses-proses yang dilakukan dalam berkomunikasi adalah dari anak kecil menuju dewasa. Lalu bagaimana kemampuan berbahasa seseorang bisa mengingat untuk satu jenis bahasa dan/atau bisa bertambah lebih dari satu bahasa secara umum. Selain itu psikolinguistik mencoba untuk menjelaskan sifat dari struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada saat mengingat, dan pada waktu memahami kalimat dalam substitusi. Pada intinya, proses kegiatan komunikasi untuk memproduksi dan memahami ungkapan. Slobin telah berhasil membuat definisi yang lumayan bisa diterima untuk istilah psikolinguistik karena telah menjelaskan dengan jelas tujuan dari gabungan dua macam ilmu yang berbeda tersebut.
Kesimpulan Akhir (Definisi Psikolinguistik Menurut Penulis)
Psikolinguistik yaitu suatu bidang ilmu interdipliner antara bidang ilmu psikologi mempelajari ilmu tentang kejiwaan, proses mental baik normal maupun abnormal yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan bidang ilmu linguistik mempelajari ilmu tentang bahasa. Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa dan bagaimana struktur ini diperoleh, digunakan pada waktu bertutur dan memeahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu sesuai proses mental baik normal maupun abnormal yang dimiliki setiap individu. Dalam prakteknya psikolinguistik mencoba menerapkan pengetahuan linguistik dan psikologi pada masalah-masalah seperti pengajaran dan pembelajaran bahasa, pengajaran membaca permulaan dan membaca lanjut, kedwibahasaan dan kemultibahasaan, penyakit bertutur seperti afasia, gagap, dan sebagainya; serta masalah-masalah sosial lain yang menyangkut bahasa, seperti bahasa dan pendidikan bahasa dan pembangunan nusa dan bangsa.
Ranah Cakupan Psikolinguistik
Disiplin psikolinguistik telah berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa subdisiplin psikolinguistik. Di antara subdisiplin psikolinguistik itu adalah sebagai berikut:
a. Psikolinguistik Teoretis
Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana, dan rancangan intonasi.
b. Psikolinguistik Perkembangan
Subdisiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2). Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu.
c. Psikolinguistik Sosial
Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa, bahasa itu bukan hanya merupakan satu gejala dan identitas sosial saja, tetapi juga merupakan suatu ikatan batin dan murni yang sukar ditinggalkan.
d. Psikolinguistik Pendidikan
Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umumnya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran kemahiran berbahasa, dan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan.
e. Psikolinguistik-Neurologi (Neuropsikolinguistik)
Subdisiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak, serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu. Namun, ada pertanyaan yang belum dijawab secara lengkap, yaitu apa yang terjadi dengan masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa diprogramkan dan dibentuk dalam otak itu.
f. Psikolinguistik Eksperimen
Subdisiplin ini meliput dan melakukan eksperimen dalam kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain.
g. Psikolinguistik Terapan
Subdisiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam subdisiplin psikolinguistik di atas ke dalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termasuk subdisiplin ini ialah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi, dan susastra.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.
Karina, Dian. 2013. Artikel Psikolinguistik. http://diankarina900.blogspot.co.id/2013/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html; diakses tanggal 28 Februari 2016.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Listianingrum, Via. 2013. An Error Analysis on Simple Past Tense Made by Second Grade Students in their Stories (A Psycholinguistics Approach) Submitted as a Partial Fulfillment of Requirement for the Sarjana Degree in English Department Faculty of Letters and Fine Arts Sebelas Ma. Surakarta: tidak diterbitkan.
Penulis: Wiwin Nurcahyani, bidang Linguistik, prodi Sastra Daerah, angkatan 2013, UNS
Emperor Casino Review (2021) | Shootercasino.com
BalasHapusEmperor Casino is a trustworthy casino with some nice bonuses and a good febcasino reputation as one of the safest casinos 제왕 카지노 around. It's a top rated online หารายได้เสริม